Kamis, 24 Oktober 2013

Sifat Manusia Menurut Bulan Lahir



JANUARI
*.Mudah mencintai
*.Mudah melupakan saat dikhianati
*.Pandai menggoda
*.Romantis tetapi kaku
*.Mudah cemburu
*.Mudah bergaul dan pemalu
FEBRUARI
*.Sukar jatuh cinta
*.Menghargai pasangan
*.Jujur dan transparan
*.Nekad
*.Sangat romantis
*.Modis
MARET
*.Mudah menarik simpati lawan jenis
*.Tidak mandiri
*.Pemalu
*.Mudah cemburu
*.Manja
*.Mudah mencintai
*.Penurut
APRIL
*.Sulit jatuh cinta
*.Tidak berani berterus terang
*.Pemalu
*.Butuh perhatian
*.Pencemburu
*.Setia
*.Mudah emosi
*.Ngga romantis
*.Sukar melupakan pasangan walaupun dikhianati
MEI
*.Mudah jatuh cinta
*.Baik dan jujur
*.Suka mengatur
*.Suka berkhayal
JUNI
*.Tidak bisa menyenangkan pasangan
*.Mudah mencintai tetapi terlalu memilih
*.Cerewet
*.Mudah ngambek
*.Pelindung sejati
JULI
*.Pandai menjaga diri
*.Sukar dimengerti
*.Suka dan senang berterus terang
*.Mudah terluka dan lama pulih
*.Mudah ngambek
*.Setia
*.Pendengar yang baik
*.Mudah cemburu
*.Suka menilai dan menjaga hubungan
AGUSTUS
*.Suka memimpin
*.Penuh kasih sayang dan penyayang
*.Romantis
*.Sangat sensitif
*.Mudah curhat
SEPTEMBER
*.Sopan
*.Suka mengkritik
*.Pandai memahami
*.Kurang menunjukan perasaannya terhadap pasangan
*.Sukar melupakan jika hatinya terluka
*.Pandai menyimpan perasaan
*.Suka berterus terang
OKTOBER
*.Pandai berkomunikasi
*.Suka disayang dan menyayangi
*.Sopan
*.Jujur dan jarang berpura-pura
*.Mudah emosi
*.Pencemburu
*.Romantis
*.Memahami pasangan
NOVEMBER
*.Cermat dan teliti
*.Suka berahasia dengan siapapun
*.Kuat
*.Mudah emosi
*.Moody
DESEMBER
*.Mudah mencintai
*.Selalu tergesa-gesa
*.Mandiri
*.Mencintai kebebasan
*.Pandai mempengaruhi

Riwayat Hidup Santa Cecilia



Cecilia adalah pelindung para seniman musik dan musisi Gereja. Ia diberi gelar demikian karena konon sebelum wafat, ia sempat melagukan kidung pujian bagi Tuhan. Nama Cecilia diambil dari perkataan dalam bahasa latin yang berarti “Bunga Lili dari Surga”.
Cecilia berasal dari keluarga bangsawan di Roma. Secara diam-diam keluarganya menjadi pengikut Kristus. Hal ini mereka lakukan karena saat itu Kekaisaran Roma yang berada di bawah pemerintahan Kaisar Alexander Severus mengejar dan membunuh orang-orang Kristen. Cecilia dijodohkan dengan Valerianus yang berasal dari sesama keluarga bangsawan dan masih menyembah dewa-dewi Roma. Saat malam pertama pernikahannya, Cecilia mendapat penampakan. Seorang malaikat datang kepadanya dan berpesan agar Cecilia menjaga keperawanannya.
Cecilia pun berpesan kepada suaminya untuk ikut menjaga keperawanannya. Valerianus ingin melihat penampakan seperti istrinya, tetapi tidak bisa karena ia belum menjadi Kristen. Valerianus juga makin tertarik menjadi pengikut Kristus ketika melihat sikap hidup Cecilia yang sangat saleh. Cecilia membawa Valerianus menemui Paus Urbanus untuk dibaptis. Setelah dibaptis, Valerianus dan Cecilia melihat penampakan dua malaikat yang memahkotai mereka dengan bunga mawar dan lili.
Kabar ini sampai ke telinga adik Valerianus yang bernama Tiburtius. Karena terpesona dengan keteladanan dan sikap hidup pasangan suami-istri ini, ia pun memberikan dirinya dibaptis oleh Paus Urbanus. Secara bersama-sama, mereka membantu pelayanan sesama umat Kristen dengan kekayaan mereka. Di antaranya, menguburkan para martir dan melindungi orang-orang Kristen yang dianiaya.
Tindakan ini membuat penguasa Romawi marah. Atas perintah Prefek Roma, Almachius Turcius, Valerianus dan Tiburtius dipancung. Cecilia menguburkan para martir ini dan melanjutkan pelayanan. Dia menjadikan rumahnya sebagai tempat beribadah. Selama itu, rumahnya menjadi saksi iman bagi para pengikut Kristus lainnya. Di sanalah sekitar 400 orang dibaptis Paus Urbanus. Mendengar hal ini, Almachius Turcius marah besar dan memerintahkan supaya Cecilia dimasukkan ke dalam tempat mandi uap seharian penuh agar mati lemas.
Ternyata, Cecilia tidak meninggal. Almachius Turcius pun memerintahkan seorang algojo untuk memenggal kepalanya. Meski telah ditebas dengan pedang sebanyak tiga kali, Cecilia tak kehilangan nyawanya. Cecilia tetap bertahan hidup selama tiga hari karena ia ingin menerima hosti untuk yang terakhir kalinya.
Di hari terakhir, ia sudah tak kuat lagi menahan derita. Setelah menerima hosti dari Paus Urbanus, Cecilia wafat pada 230. Paus Urbanus memakamkan Cecilia di antara makam para uskup dan para martir di katakombe -pemakaman bawah tanah- Callistus. Ia wafat dengan posisi mengacungkan tiga jari kiri dan satu jari kanannya sebagai simbol keyakinannya akan Tritunggal Mahakudus.
Pestanya diperingati setiap 22 November. Nama Cecilia begitu dihormati di kalangan umat Kristiani. Hingga saat ini, ada satu tarekat religius yang menamakan dirinya Suster-suster Santa Cecilia. Salah satu tugas mereka adalah menjahit dan membuat pallium-semacam syal yang terbuat dari wol. Paus memberikan pallium ini kepada uskup agung yang baru setiap 29 Juni.
Sebuah gereja dibangun untuk menghormati Cecilia. Sekitar 820, Paus Paschalis I membangun gereja ini di Trastevere, Roma. Paus Paschalis memakamkan kembali jenazah Santa Cecilia di bawah altar gereja ini. Pada 822, saat menggali makam Cecilia, Paus Paschalis menemukan jenazahnya dalam keadaan utuh. Dalam Gereja Trastevere, dibangun kapel untuk menyimpan puing tempat pemandian yang digunakan untuk membunuh Cecilia.

SOMEDAY A DREAM WILL BECOME TRUE

Ujian akhir sekolah hampir datang. Masa putih abu-abuku pun juga akan segera berakhir. Selesai sudah semuanya. Cerita indah tentang teman putih abu-abuku, tapi tidak untuk diriku. Karena ini adalah awal untukku memulai petualangan hidupku.

Awal memasuki kelas XII.
Seperti biasa semua menjadi terasa berat.meskipun sudah dua kali aku menghadapi ujian seperti ini, tapi tetap saja terasa berat. Mungkin ini adalah puncak dari yang sebelumnya. Aku harus mempelajari semuanya lagi dari awal untuk menghadapi pertempuran yang menguras banyak tenaga juga pikiran. Belum lagi banyaknya pilihan yang menanti setelah ujian. Hahhh, rasanya ingin berhenti, tapi inilah hidup. Tidak akan berarti tanpa sebuah ujian. Perjuangan demi perjuangan mulai aku lakukan, setiap pagi melangkah ke sekolah hingga pulang sekolah di sore hari, hanya rasa lelah juga gelisah yang mendampingiku. Bahkan untuk makan dan tidur pun tak tenang. Perasaan takut akan sebuah kegagalan selalu menghantui diriku. Hanya malam yang sunyi yang bisa menenangkan jiwaku disaat aku menghadap yang maha segalanya. Dan memang benar, kita tak perlu takut jika kita terus mendekat pada-Nya disela-sela kesibukan kita dengan ujian tersebut.
Someday A Dream Will Become True
Disela-sela kesibukanku, aku juga harus memikirkan masa depanku. Tujuanku jika ujian ini berhasil, dan tentunya harus berhasil. Hanya perlu yakin pada diri sendiri dan juga tak lupa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mulai dari instansi pendidikan, pekerjaan datang menghampiri. Saat aku mulai yakin pada satu tujuan, tujuan lain datang. Aku hampir putus asa, atau mungkin sudah menyerah saat ayahku tidak mendukung tujuanku. Aku langsung roboh, hilang semua semangat yang sudah aku kumpulkan selama ini. Tujuanku sebenarnya sederhana, aku hanya ingin bisa kuliah juga bekerja secara bersamaan. Menggapai mimpiku menjadi seorang guru matematika, dan pastinya tanpa membebani orang tua. Setidaknya itulah yang aku inginkan sejak kecil. Tapi orang ayahku terlalu kolot, “Buat apa kuliah,? Cuma menghabiskan uang saja. Mendingan langsung kerja.” Kata ayahku.

Saat itu aku sangat kecewa, tak lagi bersemangat untuk meneruskan semuanya. Aku terombang ambing tanpa tujuan. Bahkan aku hampir saja lupa pada mimpi-mimpiku. Aku tak tahu harus bagaimana, dan saat aku merasa semua hanya tinggal mimpi ibu dan kakakku datang. Mereka memang selalu ada disaat aku membutuhkannya. Disaat semua berusaha untuk menjatuhkanku, maka merekalah yang akan datang untuk mengangkat diriku. Bagi mereka mimpiku adalah sebuah kebahagiaan yang harus diwujudkan. Meskipun dengan susah payah, tapi mereka terus berusaha. Perlahan aku bangkit kembali, aku sadar aku tidak boleh mudah putus asa. Semua itu juga ujian. Sama halnya dengan ujian sekolah yang akan aku lakukan nanti.

Bukan hanya kakak dan ibuku yang berjuang. Aku pun ikut berjuang. Disela-sela waktu sambil belajar aku membantu ibu membuat anyaman dari bambu. Maklum aku bukan anak yang terlahir ditengah-tengah keluarga yang kaya. Terkadang aku merasa sedih saat mengingat semua itu, untuk meneruskan sekolahpun aku harus ikut bekerja membantu orang tua. ‘aku juga ingin seperti temanku yang segalanya hanya tinggal meminta.’ Kata-kata itu yang selalu melintas dipikiranku. Hingga membuatku mudah menyerah. Aku harus bergelut dengan rasa letih, mengantuk hingga tak aneh jika aku sering tertidur saat pelajaran berlangsung. Tapi aku ingat, aku tidak sendiri. Kakak dan ibuku juga ikut berjuang, mereka terus mengangkatku saat aku terjatuh. Saat aku berada dikegelapan merekalah yang menerangiku. Mereka siap mempertaruhkan segalanya untuk diriku, hanya untuk mimpi-mimpiku. Karena mereka yakin aku bisa. Itulah yang membuatku sanggup bertahan sampai di sini.

Detik-detik menjelang ujian.
Aku tak tau kenapa jantung ini berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Pengen rasanya aku berteriak, tapi aku tak mampu. Keringat dingin juga keluar dari badanku. Aku drop out, hampir tak sanggup mengerjakan soal-soal itu. Tapi keluarga juga mimpiku menguatkan aku. Aku terus berdoa sambil mengerjakan soal-soal itu. Berharap tidak ambruk saat mengerjakan soal-soal ini hingga hari terakhir. Tiga hari berlalu. Haahhh, lega rasanya. Eitss, tunggu dulu! Masih ada ketegangan yang sepuluh kali lebih besar dari ini. Hari demi hari aku menunggu. Akhirnya hari H pun tiba. Aku mencoba menenangkan diri, tapi tetap tak bisa. Hatiku bergemuruh, ‘jantungku mau copot!’ teriakku dalam hati.
“kamu kenapa,? Lebih baik kita ke mushola aja yuk, pasti bias lebih tenang.” Seseorang telah mengulurkan tangannya untuk diriku. Aku tersenyum dan menyambut uluran tangan tersebut. Dan benar, saat aku berdiri di depan pintu hatiku merasa kesejukan. Badai yang menerpa hatiku mulai meredam. Kini hatiku merasa sejuk, seakan embun pagi membasahi hatiku. Aku terus berdoa, aku ingin yang terbaik untukku, keluargaku, sahabatku juga semuanya. Ingin rasanya aku menumpahkan isi hatiku, tapi aku masih belum sanggup. Hanya sedikit yang keluar, sedikit membuat hatiku merasa nyaman.
“Thia…. Muthia….kamu dimana,?!!!” sebuah teriakan membangunkan lamunanku. Aku langsung berdiri dan keluar masjid, meski tidak turun. Tapi aku tetap bisa melihat dengan jelas siapa yang memanggilku. Aku hanya diam saja. Menanti kata-kata keluar dari bibir sahabatku. “kamu LULUS…” mendengar teriakan tersebut sepontan aku langsung terduduk dan bersujud syukur. Aku menangis sebisaku. Sebuah pelukan hangat menyambutku dari belakang, dia adalah sahabatku yang selama ini tak tampak olehku. Kami turun bersama, pelukan demi pelukan menyambut kami. Aku memeluk semua teman putih abu-abuku. Semua sahabat yang belum aku temui. Tapi lebih tepatnya lagi sahabat yang sudah ku lihat namun tidak aku temui hatinya dihatiku. Perasaanku membaur jadi satu bersama sahabatku. Aku bahagia. Sebagian mimpiku terwujud, aku lulus dengan nilai yang memuaskan.

Akhirnya tak berapa lama kemudian aku juga menggapai mimpiku yang sebagian lagi. Aku dapat meneruskan kuliahku dan tentu di universitas impianku juga. Begitu juga dengan semua sahabat putih abu-abuku. Mereka mendapatkan apa yang mereka mimpikan dan mereka perjuangkan. Dan…sekali lagi aku sangat bahagia.

-TAMAT-